Home » HOT NEWS » Pesan Konfrontasi Ala Prabowo Subianto

Pesan Konfrontasi Ala Prabowo Subianto

Jangan pilih kucing dalam karung. Pertanyaanya: "ada ga kucingnya?". Silahkan googling nama para caleg, lalu copaskanlah hasil pencarianmu pada halaman para caleg tersebut. Komentar dan TESTIMONI berupa Kesaksian Rekam Jejak Caleg akan sangat berguna serta dapat menjadi petunjuk bagi para pemilih yang buta caleg maupun parpol. Komentar disertai Promo dan atau HP, Email adalahSPAM (terblokir).

Komentar - Komentar Terblokir

Statistic Content & Rating Caleg

PENDIDIKAN POLITIK PUBLIK

Profil PrabowoPada Selasa (22/7), beberapa jam sebelum KPU menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo menyatakan mundur dari proses rekapitulasi suara. Selanjutnya pada hari Jumat (25/7) Prabowo lewat akun official page facebook dan youtubenya mengunggah “Pesan video dari calon Presiden RI 2014-2019 Prabowo Subianto untuk sahabat Facebook dan pendukung dimanapun berada” sebagai berikut:

Bismillahi Rahmanirohim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Syalom,
Om Swastiastu, Nama Buddhaya.

Saya ingin menyampaikan beberapa pikiran-pikiran saya, pada saat negara kita saat ini menghadapi keadaan yang kita ketahui bersama, cukup memprihatinkan. 

Saudara-saudara sekalian, sudah berkali-kali saya menyampaikan baik melalui tulisan, melalui pidato-pidato maupun melalui pesan-pesan yang disiarkan melalui internet dan media-media lain. Setelah saya menyampaikan bahwa saya turut berjuang untuk membangun bangsa Indonesia yang demokratis, komitmen saya kepada demokrasi sudah saya buktikan, pada saat saya menjadi seorang Panglima dalam TNI, seorang Panglima yang memimpin 33 batalyon tempur. Bisa dikatakan sepertiga kekuatan tempur Angkatan Darat berada di bawah komando saya. 

Dan pada saat saya dituduh ingin melakukan kudeta untuk ambil alih kekuasaan pada bulan Mei 1998, saya telah buktikan kepada rakyat Indonesia dan kepada sejarah bahwa saya tidak melakukan apa yang dituduh saya rencanakan. Bahkan saya turun dari jabatan dengan tidak membantah perintah atau putusan dan setelah sekian belas tahun tidak ada keluhan, bantahan atau sanggahan dari saya. Waktu itu saya seorang prajurit. Walaupuan saya pensiun, semangat keprajuritan saya masih saya pegang. Semangat prajurit TNI adalah tentara rakyat. Kita lahir dari rakyat, kita membela rakyat dan kita siap mati untuk rakyat Indonesia. 

Saya telah membuktikan, selama karier hidup saya, berkali-kali saya pertaruhkan nyawa untuk bangsa dan negara saya. Saudara-saudara boleh bertanya kepada mantan anak buah saya yang jumlahnya ribuan dan ada di mana-mana. Tanyakan kepada mereka apakah Prabowo Subianto pernah meninggalkan tugas di daerah pertempuran. Saudara-saudara sekalian, tanyakanlah kepada mereka apakah dalam pertempuran saya ada di depan memimpin mereka, di bawah desingan peluru, atau di bawah markas yang aman? Saya sebagai patriot telah bersumpah untuk membela dan membangun bangsa saya. 

Saudara-saudara sekalian, dalam menjalankan sumpah itu, untuk membela dan membangun bangsa, saya yakin demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik. Karena itu saya terjun ke politik sudah 10 tahun lebih saya mengikuti pemilihan umum sudah 3 kali. Saya membangun sebuah partai dari nol. Saya keliling dari kabupaten ke kabupaten, kecamatan ke kecamatan, desa ke desa, provinsi ke provinsi, memang banyak yang belum saya sentuh karena sungguh besar negara kita saudara-saudara sekalian.

Saya telah sampaikan di beberapa forum, majelis, bahwa bangsa kita telah mengalami sebuah keadaan yang janggal di mana kekayaan bangsa kita tidak tinggal di republik kita. Kekayaan kita mengalir terus ke luar, karena itulah saya berjuang untuk mengubah sistem ini. Saya berjuang untuk mengamankan rakyat dan kekayaan negara. Saya bicara dari hati yang paling dalam. 

Saudara-saudara sekalian, saya percaya bahwa demokrasi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Karena itu laksanakan pemilihan presiden yang baru saja dilaksanakan itu harapan kita semua, bahwa mandat yang diberikan dari rakyat, mandat itu harus diberikan secara benar-benar, secara adil, secara terbuka ,secara bersih, secara jujur. Esensi demokrasi adalah pemilihan yang bersih dan jujur

Saudara-saudara sekalian, dalam Pemilihan Presiden yang baru lalu ternyata kita temukan kecurangan yang terlalu banyak, kecurangan yang terlalu massif, terlalu sistematis. Kita juga mengalami bahwa penyelenggara pemilu tidak adil, memihak salah satu kontestan. Protes-protes, himbauan kami sebagai capres dan cawapres nomor 1 tidak pernah dihiraukan. Rekomendasi-rekomendasi Bawaslu dibeberapa tempat tidak pernah dihiraukan. 

Saudara-saudara sekalian, Tim hukum dan tim data kami telah menemukan suatu indikasi kecurangan yang cukup besar. Karena itu dengan sangat sedih dan sangat menyesal kami mengatakan kalau Pemilu ini gagal. Bahwa Pemilu ini tidak sah. Bahwa Pemilu Presiden ini melanggar kaidah-kaidah demokrasi. 

Bahwa kalau kita merestui keputusan ini, berarti kita merestui sebuah kecurangan, kita merestui keputusan sebuah kebohongan, kita merestui keputusan sebuah ketidakbenaran.

Para sahabatku di mana pun engkau berada, saya kira saudara merasakan dimana-mana betapa telah rusak mental bangsa kita. Betapa telah rusak mental para pemimpin-pemimpin kita, para pejabat-pejabat kita. Ini mencemaskan kita semua. Bagaimana bisa kita hidup sebagai negara merdeka kalau pejabat kita tidak punya integritas, bisa disogok, bisa dibeli. Dimana tempat keadilan bagi rakyat yang tidak punya uang? Kalau orang merasa diperlakukan tidak adil, seharusnya dia ada tempat untuk mengadu, harusnya ke polisi, ke pengadilan, atau dia minta suatu pembelaan di lembaga-lembaga negara yang didirikan dalam republik kita. 

Kalau semua lembaga itu buntu, karena korupsi, karena hakim-hakim sudah tidak punya integritas, hakim bisa dibeli, pejabat KPU bisa dibeli, pejabat KPUD bisa dibeli, kalau ini semua terjadi, apa masa depan bangsa kita? Bagaimana negara kita bisa bertahan? Gunakanlah akal sehat kita. Sungguh-sungguh negara kita menuju kegagalan. 

Saudara-saudara, saya katakan, ada kalanya dalam hidup kita harus memilih. Pilihan yang sulit, apakah kita membela kebenaran atau merestui ketidakbenaran? Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi, atau kita menyerah kepada uang? Kita menjual nilai-nilai, diri, kepribadian, harga diri kita? 

Saudara-saudara, pilihan-pilihan semacam ini sangat sulit. Padahal tahun 1945 pemimpin kita dihadapkan pada pilihan semacam ini. Apakah menyatakan kemerdekaan atau menunggu kemerdekaan diberikan penjajah? PIlihan yang sulit, pilihan itu mengandung resiko. Mereka yang menghendaki pernyataan kemerdekaan memang mempertaruhkan nyawanya di situ. Dalam 10 November 1945, rakyat Surabaya dan pemimpin di Surabaya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Menyerah pada ultimatum Inggris untuk angkat tangan dan serahkan senjata paling lambat 9 November atau hadapi serbuan dan seruan negara adidaya pada saat itu yaitu Inggris.

Kita bayangkan bagaimana harga diri bangsa kita kalau waktu itu pemimpin Surabaya dan rakyat di Surabaya menyerah. Kalau Gubernur Suryo, Bung Tomo dan semua pemimpin-pemimpin Jawa Timur di Surabaya tunduk pada ultimatum asing, bagaimana harga diri kita? Juga dalam krisis besar bangsa kita. Tahun 1965 apakah memilih membela Pancasila atau menyerah kepada ideologi yang tidak sesuai dengan bangsa kita yaitu komunisme. 

Saudara-saudara, demikian juga pada 1998 pada era reformasi, banyak pemimpin kita yang dihadapkan pada pilihan yang susah. Membela sistem yang kurang demokratis atau berani membawa reformasi dan demokrasi. Reformasi dan demokrasi telah kita jalankan selama 16 tahun

Saudara sekalian, banyak lawan-lawan saya selalu hendak mendiskreditkan saya. Saya digambarkan sebagai orang yang haus kekuasaan, yang nafsu untuk berkuasa. Dan saya digambarkan orang yang suka menggunakan kekerasan, yang kejam dan sebagainya. Saya telah membuktikan setelah sekian belas tahun kalau saya selalu mengusahakan jalan damai. Saya seorang mantan prajurit yang mengerti perang. Saya pernah melihat perang. Saya pernah melihat korban-korban perang. Komandan yang sangat saya hormati, gugur di tangan saya. Anak buah saya yang terbaik gugur di sekitar saya. Saya yang harus ke keluarga mereka, ke ibu mereka, ke istri mereka untuk memberitahu mereka gugur di bawah kepemimpinan saya. Saya selalu ingin jalan damai

Karena itu saudara-saudara, fitnah yang dilancarkan sungguh sangat keji. Saya dituduh ingin tutup gereja, padahal keluarga saya sebagian besar Kristen, bahkan ibu saya adalah seorang Nasrani. Bahkan orang di sekitar saya banyak yang Nasrani. Saya seorang mantan prajurit TNI, sumpah kita membela seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang suku, agama dan ras. Saya sudah pertaruhkan nyawa saya. Banyak anak buah saya, dari berbagai suku bangsa dan agama, telah gugur di bawah komando saya. Bagaimana saya bisa melanggar sumpah saya dan melupakan pengorbanan anak buah saya?

Saya telah difitnah, seolah-olah saya anti etnis Tionghoa. Padahal saya selalu membela semua kelompok minoritas. 

Fitnah itu adalah bagian yang keji dari politik. Saya minta sahabat saya untuk sabar dan tenang. Jangan menjadi marah. Kita harus semakin arif, semakin sabar. Bukan menerima fitnah ini, tapi kita perhitungkan dengan sebaik-baiknya. Jangan kita balas kedengkian dengan kedengkian, kejahatan dengan kejahatan. Jangan kita balas fitnah dengan fitnah kembali

Dalam situasi kritis ini, saya minta saudara-saudara untuk terus. Walau sabar, harus siap mental, tenaga, nafas kita. Saya minta saudara-saudara dalam keheningan malam nanti, renungkanlah pendapatmu, sikapmu, jawabanmu. Saya bertanya, apakah kita membela kebenaran terus atau kita menyerah pada ketidakbenaran, pada kecurangan, pada kezoliman?

Dan dalam hari-hari yang akan datang, setelah kita merenungkan, marilah kita mengambil langkah-langkah untuk hadapi hari-hari yang akan datang. 

Saya telah memilih berjuang diatas landasan konstitusional. Saya sangat sulit menyerah pada keadaan yang tidak benar dan tidak adil. Saya menilai keadaan ini sarat dengan campur tangan asing. Ada negara tertentu yang ingin Indonesia hancur, lemah, miskin. Kita telah mendapat bukti yang cukup kuat tentang keterlibatan mereka. Tetap kita harus tenang, sabar dan tidak melupakan kekuatan kita sendiri. 

Saudara sekalian, katakanlah dari hitungan yang mereka anggap benar, dan kita anggap tidak benar, puluhan juta rakyat Indonesia berada bersama kita. Bahkan sahabat-sahabatku, di Facebook saya, sekarang jumlahnya sudah lebih dari 8 juta orang. Saya minta para sahabatku yang sejati, mungkin ada yang masuk hanya ikut-ikutan. Tapi mereka yang benar-benar membela nilai kebaikan, nilai membangun Indonesia yang benar dan baik untuk anak dan cucu, saya mohon marilah terus kita dalam kekompakan dan kebersamaan, mari kita nilai dari hari ke hari, apa pun kita lakukan harus di atas landasan konstitusi kita. Dan tidak boleh menggunakan kekerasan. Kita harus lakukan perjuangan diatas landasan Satya Graha yang telah diberi contoh oleh seorang tokoh di India, Mahatma Gandhi, dan di Amerika Martin Luther King dan di Afrika Selatan Nelson Mandela

Percayalah, kebenaran akan menang, kebenaran tidak bisa dikalahkan. Yang penting kita harus tegar, berani dan mau berkorban. Bung Karno dan Bung Hatta dan Bung Syahrir dan Pak Dirman dan Gubernur Suryo dan semua pahlawan pendiri bangsa telah mengajarkan, kalau kita tidak menyerah, kalau kita berani, tegar, kebenaran akan unggul. Kebenaran akan menang pada saatnya. 

Kita harus siap hadapi kesulitan, penderitaan. Tapi pilihannya, kita menyerah seperti budak yang disuruh duduk, tunduk, diam, ambil air, atau kita bangsa yang terhormat, bangsa yang mengerti membela haknya, membela hak-hak rakyat. Saudara sekalian, kekuatan kita besar, kita kemarin dicurangi. Karena itu marilah kita susun barisan kita kembali, susun kekuatan kita kembali, dari orang ke orang. Lima orang ke lima orang, 10 orang ke 10 orang, adakan diskusi, lakukan di rumah masing-masing. Pada saatnya nanti kita akan umumkan bagaimana perjuangan kita

Yang jelas, pilihannya hanya dua, berdiri terhormat sebagai bangsa ksatria atau tunduk selamanya sebagai bangsa kacung, bangsa budak, bangsa yang lemah, bangsa yang bisa dibeli, bangsa yang bisa disogok. Pilihannya ada di hati kita masing-masing. Saya tidak tahu dari 8 juta sahabatku, berapa yang terus bersama saya. Saya mohon tolonglah jawab kepada saya sehingga saya tahu siapa yang akan berjuang terus bersama saya sampai titik darah penghabisan, atau mereka yang akan melihat dari pinggir, saya pun tidak masalah. 

Terima kasih. Ini belum akhir dari sebuah perjuangan. Ini baru dari awal perjuangan kita. Merdeka!

stressed by ijrsh from youtube & portalkbr.com


Berpartisipasi Untuk INDONESIA 2014 Yang Lebih Baik

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: